Dulu ketika aku bergitu mencintai Alloh, aku begitu berserah dan mengikis keinginan duniawiku.
Aku berusaha totalitas dan berjuang menjalankan semua perintah Alloh dan meninggalkan larangannya. Tapi seiring berjalannya waktu, mengenal cinta lawan jenis, mengenal kenikmatan harta, dan gemerlapnya harapan yang menggebu, membuat aku lupa akhirat, aku terlena dengan semua itu.
Kali ini aku menangis, menangis dan menangis. Mungkin beberapa orang yang melihat aku menangis saat sang almarhum ditayangkan ditelevisi karena aku sangat sedih dengan meninggalnya beliau. Iya betul saya sedih karena orang soleh telah meninggal, tapi aku sangat sedih karena mengingat betapa kematian itu sangat dekat, dan aku belum melakukan apa-apa. Aku sudah jauh dari Alloh, aku sudah terbuai keduniawian.Aku disadarkan kembali, bahwa kematian tidak mengenal kesolehan, tidak mengenal umur, tidak mengenal ketampanan, tidak mengenal kekayaan dan tidak mengenal siapa kamu. Ajal itu sangat dekat! Dan apa yang sudah aku perbuat? Belum ada!!!
"Katakanlah: Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”. (QS al-Jumu’ah, 62:8)
"Sesungguhnya
Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan
Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim.
Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang
akan diusahakannya besok. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di
bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha
Mengenal." (QS, Luqman 31:34)
"Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS, Al-Munafiqun, 63:11)
Perbaiki diri dari sekarang!!!
Lalu aku terfikirkan untuk menikah, menikah bukan karena tuntutan usia atau karena kebutuhan duniawi. Menikah karena aku mau menjaga 2/3 agamaku karena aku ingin meninggal setelah aku menikah. Menikah hukumnya memang bukan wajib seperti wajibnya sholat atau kewajiban ibadah lainnya. Namun menikah sungguh bermanfaat banyak. Selain berpahala besar, menenangkan hati, mendapatkan keturunan dan kebaikan-kebaikan lainya, menikah juga dapat mencegah berbagai pelanggaran antar jenis yang bukan mahromnya.
النِّكَاحُ مِنْ سُنَّتِي فَمَنْ لَمْ يَعْمَلْ بِسُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي وَتَزَوَّجُوا فَإِنِّي مُكَاثِرٌ بِكُمْ اْلأُمَمَ وَمَنْ كَانَ ذَا طَوْلٍ فَلْيَنْكِحْ وَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَعَلَيْهِ بِالصِّيَامِ فَإِنَّ الصَّوْمَ لَهُ وِجَاءٌ * رواه ابن ماجة
Menikah itu sunnahku, barang siapa yang tidak mengamalkan sunnahku maka bukan golonganku, dan menikahlah kalian sesungguhnya aku adalah orang yang memperbanyak umat, barang siapa yang punya kemampuan maka menikahlah dan barang siapa yang tidak punya kemampuan maka berpuasalah sesungguhnya puasa sebagai perisai (benteng penjagaan) ( HR Ibnu Majah )
إِذَا تَزَوَّجَ أَحَدُكُمْ عَجَّ شَيْطَانُهُ يَقُوْلُ يَا وَيْلَهُ عَصَمَ ابْنُ آدَمَ مِنىِّ ثُلُثَىْ دِيْنِهِ * (أبو يعلى و الديلمى
Ketika salah satu dari kalian menikah maka syetannya akan berteriak dan berkata : Celaka… anak Adam telah menjaga 2/3 agamanya. ( HR Abu Ya’la dan Ad dailamy )
يَامَعْشَرََ الشَّبَابَ، مَنِ اسْتَطَاعَ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أََغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ، فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ * رواه البخارى
“Wahai para pemuda! Barang siapa diantara kalian berkemampuan untuk nikah, maka nikahlah, karena nikah itu lebih mudah menundukkan pandangan dan lebih membentengi farji (kemaluan). Dan barang siapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia puasa, karena puasa itu dapat membentengi dirinya. (HR. Bukhari).
Didalam hadist lain disebutkan bahwa sehina atau serendah-rendahnya janaiz (mayat) adalah mati dalam keadaan membujang.
Tapi semua aku kembalikan kepada Alloh, apa yang terbaik. Hidup, Mati, Rezeki dan Jodohku adalah hak priogritas Alloh. Kalaupun aku harus meninggal sebelum sempat menikah, maka aku akan berusaha menjaga kehormatankua. Karena Syaikh ibn ‘Utsaimin berkata:
“Jika seorang wanita belum menikah di dunia, maka sesungguhnya Allah akan menikahkannya dengan suami yang bisa menyenangkannya di sorga. Maka kenikmatan sorga tidaklah terbatas hanya pada kaum laki-laki, akan tetapi diperuntukkan bagi laki-laki dan perempuan. Dan di antara bentuk kenikmatan sorga adalah pernikahan.”


Tidak ada komentar:
Posting Komentar