Kamis, 16 Desember 2010

Penyakit-Penyakit Hati

(Sumber: Pengajian Online)


Hati di dalam Islam menempati posisi yang sangat penting.
Hadits: apabila hati ini baik, maka baiklah semua bagian tubuh, dan
kalau rusak, rusaklah semua bagian tubuh.
Qolb: dalam bahasa Arab sebenarnya jantung. Dan jantung
menjadi parameter kesehatan tubuh. Dalam pembahasan
kerohanian, atau tazkiyatunnafs, konsep pensucian jiwa, Al Qolb
diterjemahkan menjadi hati, bukan jantung. Dalam konteks rohani, maka dalam bahasa
Indonesia adalah hati.


Rasulullah SAW juga menyebutkan dalam hadits lain,
bahwasanya, hati itu bisa menjadi keruh atau kotor, atau bisa mengidap beberapa
penyakit, „Inna Dzunuba …“ Sesungguhnya dosa-dosa itu, apabila sudah
mendominasi orang, mendominasi hatinya, maka hatinya akan tertutup.
Karena setiap dosa, maka akan ada satu noda hitam yang akan menutupi hatinya.
Kalau dia taubat dan beristighfar, maka hatinya akan kembali bersih. Kalau
tidak, hatinya akan terus hitam, dan kalau semakin banyak dosanya, akan
mengotori seluruh hati, yang akhirnya semua hitam.
Kalla bal roona ‚ala quluubihin ma kaanu yaksibuun. Karat-karat di hati yang disebabkan dosa
yang dilakukan.

Beruntunglah orang-orang yang terus membersihkan hati,
dan rugilah orang-orang yang mengotori jiwanya. QS Asy-Syams
(91):9 10. Di sini, mengotori atau membersihkan jiwa adalah pilihan kita.
Yang membuat hati kita kotor, adalah perbuatan dosa, semua perbuatan maksiat,
dan yang terkait dengan hati, seperti hasad, nifaq, dsb, maupun yang
terkait dengan dosa fisik manusia, seperti mencuri, zina dsb.


Pengaruh ajakan syetan.
QS AnNur:21. Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syetan.
Barang siapa yang mengikuti syetan, ketahuilah, bahwa syetan itu mengajak/menyuruh
kita berbuat mungkar.
Kalaulah bukan karena karunia dan rahmat Allah, niscaya tidak ada yng
bersih, selamat dari godaan syetan, tapi Allahlah yang membersihakn jiwa
yang dihendaki, dan Allahlah yang maha mendengar dan mengetahui.

Ada beberapa point.
1. Kita dilarang mengikuti langkah-2 syetan
2. Langkah-2 syetan diprogram betul oleh syetan dengan
bertahap (step by step). Khutuwaat, berarti langkah-langkah, yang berupa
tahapan-2.
Contoh: dosa kecil, meremehkan dosa kecil, dan tercebur pada
dosa besar.
3. Syetan selalu mengajak pada yang keji dan mungkar
4. Untuk meraih kebersiahan hati, kita harus melakukan
dua hal:
a. Harus melakukan mujahadah untuk melawan tipu daya
syetan. Sekuat tenaga melawan penyakit-penyakit hati yang ada dalam diri
kita
b. Doa, memohon kepada Allah utk membantu kita dalam
membersihkan diri/jiwa kita. Allah maha mendengar dan mengetahui.

Tiga perbuatan mujahadah (?)
1. Upaya membersihkan penyakit yang kita derita
2. Upaya menghiasi diri dengan akhlak-2 mulia
3. Upaya merealisasikan kedudukan-2 mulia (ihsan, taqwa, muroqobah dst) yang
menghiasi hati kita di sisi Allah SWT.

Upaya membersihkan penyakit hati, tidak ada obatnya,
kecuali melawan penyakit hati tersebut. Misal, kalau ada penyakit
sombong, maka perlu melakukan perbuatan-2 yang melawan rasa sombong.
Misalnya dengan memanggul barang, melakukan pekerjaan-2 yng kelihatannya rendah.
Kita melakukan pekerjaan-2 sederhana, menyapu, mengepel, membersihkan
WC dsb.
Contoh mengobati kikir, dengan memaksa diri untuk berinfaq
secara bertahap, tanpa diketahui orang lain.
Cara menghiasi dengan akhlak, missal tawadhu’ untuk
mengusir rasa sombong.
Sifat dermawan, untuk melawan rasa kikir.
Imam Ghozali: Akhlak , yang darinya lahir perbuatan2 atau sikap2, secara spontan
tanpa berpikir lagi.
Contoh, secara spontan tersentuh melihat penderitaan
orang lain, maka rahmat sudah menjadi akhlaknya. Dan jika langsung menimbulkan
perbuatan infaq, maka infaq sudah menjadi akhlak. Kalau masih berpikir, maka
itu belum menjadi akhlaknya.

Menghiasai dengan kedudukan mulia di hadapan Allah SWT.
Missal Al Ihsan:
beribadahlah kepada Allah seolah-olah engkau melihat
Allah, dan jika tidak bisa melihat Allah, maka yakinlah bahwa Allah
melihatmu. Berbuatlah baik, sebagaimana Allah telah berbuat baik kepada mu. Hiasan
lainnya, adalah taqwa, melaksanakan perintah Allah dan menjauhi
larangnya.

Doa
Rasulullah sebagai teladan kita, yang paling suci,
memberi contoh untuk selalu berdoa. Hadits shahih (Imam Muslim dan Nasai)
…allahumma … anta waliyyuha wa .. ya Allah berikan kepada jiwaku
ketaqwaan, sucikan dia, Engkau sebaik-baik pembersih hati, dan Engkalu
sebaik-baik penolong.

Dengan melakukan dua hal, yaitu mujahadah dan tazkyiah
(doa?), maka kita akan punya Qolbun salim, hati yang berhak menemui
Allah dengan gembira.
Yaumala … wala … illa biqolbin salim. Tidak ada lagi
gunanya manfaaat harta dan anak-anak (buah) kita, kecuali dengan hati yang
Salim.

Buah Qolbun Salim

Orang yang berhati salim, maka dia akan punya lidah
yang terkontrol dari perkataan yang mengandung dosa, bahkan dari kata-kata
yang sia-sia. Barang siapa berimana pada Allah dan hari akhir, hendaknya
dia berkata benar, kalau tidak bisa, diam. Teko atau tempat air, mengeluarkan
isinya, kalau isinya teh, yang keluar teh, kalau isinya susu, maka keluar
susu.

Allah SWT mengingatkan kita, bahwa semua aktivitas
kita yang kita lakukan, adalah cerminan hati kita. Maka yang dilihat Allah
adalah hati, baru perbuatan. Dalam ayat…. Sesungguhnya Allah SWT tidak
melihat jasad kamu, tidak melihat bentuk kami, tapi Allah melihat hati dan
amal kalian.

Prinsip dalam kedokteran, menjaga lebih baik daripada
mengobati, maka itu kita terapkan untuk kesehatan hati. Kita perlu jaga
hati kita dari debu-2 yang bisa mengotori hati kita.

Tanya tawab:
1. Bagaimana merubah sifat buruk sangka.

Buruk sangka itu disebabkan oleh beberapa sebab, a.l.
karena kita dengki dengan saudara kita yang kita sering berburuk sangka
kepadanya. Tanpa melakukan cek-ricek, kalau ada kabar burung.
Cara mengobati: usahakan jangan mudah percaya danmengambil sikap berdasarkan isu-2,
dan berusaha cek-recek, dengan data yang akurat. Kita perlu berprinsip, bahwa
semua manusia adalah baik, kecuali yang berbuat dosa. Kalau kita tidak
melihat orang berbuat dosa, maka kita harus anggap, bahwa dia baik. Asal
praduga tidak bersalah, tidak hanya dipengadilan, tapi juga pergaulan.
Jauhilah prasangka buruk, karena mayoritasnya adalah buruk.

Yang tidak boleh adalah buruk sangka. Baik sangka
diperintahkan, kecuali pada orang munafik dan yang membuat maker, sesuai
track recordnya, maka sikapnya adalah berhati-hati, tidak berbaik sangka.


Jika mungkin terkait dengan syahwat dan nafsu. Maka
dalam situasi ini, maka nikahlah, kalau kamu sudah sanggup. Kenapa? Karena
dengan menikah, kamu lebih bisa menjaga pandangan dan kemaluanmu. Jika
belum bisa, maka puasa, karena puasa adalah benteng. Jangan tidak dua-duanya.
Tidak nikah, tidak juga puasa.

Orang yang sudah menikah, tidak bersama pasanganya,
sepatutnya seperti bujangan benaran, ya dia harus banyak puasa..

Untuk bisa mengetahui penyakit hati, sebenarnya bukan
perkara yang susah. Indikator dari prilaku kita sehari-hari, dan bagaimana
kondisi semangat kita dalam melakukan ketaatan kepada Allah. Contoh: kalau
seseorang tidak mampu menahan pandangan, apalagi mendekati zina, maka dia
punya penyakit punya syahwat yang terlalu tinggi. Terapinya, ya puasa
sunnah.
Contoh lagi: dalam shalat sulit khusyu’. Maka bisa jadi ada penyakit
cinta dunia, dan ketika shalat setan mudah menggodanya. Imam Ghozali: syetan
ibarat anjing yang mengikuti kita karena kita membawa daging yang berbau.
Contoh lain: dari pergaulan kita sehari-hari, apa kita senang mengadu
domba orang lain dsb.
Kalau kita belum sanggup, maka datanglah pada orang yang tahu.

Jenis akhlak; akhlak turunan dan akhlah dapatan.
Akhlak turunan adalah karakter yang dia punya sejak
dia lahir, misal sifat atau karakter pemberani seorang anak yang dia dapatkan
dari orang tuanya.
Untuk hal ini, tentu saja positif. Kalau ada sikap buruk, maka perlu dilawan

TIngkatan penyakit hati, kalau ini adalah tingkat
keparahan. Kalau sudah parah, maka perlu pembahasan yang lebh dalam. Secara
umum, semakin buruk efek penyakit hati kita dalam kedekatan kita pada
Allah, maka semakin parah.
Kalau kita masih bisa melakukan ketataatan, maka
mungkin penyakit kita belum parah.


Caranya adalah, kita kenali dulu kebaikan dan
keburukan menurut pencipta hati, yaitu menurut Allah. Itu penting. Dari situ,
kalau kita sudah mengenalnya, maka kita ukur diri dan hati kita, sejauh
mana kesusaiannya.
Kenali juga hati kita melalui, lebih dominan apa,
kehendak baik, atau kehendak buruk? Misal: dalm sehari, pikiran buruk kita
90%, maka isyarat ada penyakit sakit.

Syukur dan sabar ini masuk dalam kedudukan-2 hati yang
mulia di sisi Allah SWT. Mungkin salah satunya, adalah hadits shahih
(Bukhari dan Muslim), sungguh ajaib orang beriman itu, setiap urusan baik,
kalau dia diberikan kemudahan dan kebaikan, dia bersyukur, maka itu baik
baginya. Dan jika ditimpa kesulitan, maka dia syabar, dan itu pun baik
baginya. Dengan syukur dan sabar, maka semua urusannya baik. Contoh kehidupan
sehari-hari, sangat banyak. Sikap seorang ulama yang diamputasi, dan pada
hari yang sama salah seorang anaknya meninggal. Komentar: alhamdulillah,
masih ada 4 orang anak, dan alhamdulillah, masih punya kaki. Beliau mensikapi
musibah dengan sikap positif.


Dalam Islam, kata suci selalu identik dengan sesuai
syariat. Itu intinya. Sebagai seorang muslim, kalau kita melabelkan kata
suci, maka kita harus memahami, bahwa itu suci menurut Allah. Nafsu seksual,
bisa menjadi suci, kalau itu dilakukan pasca pernikahan. Hub. Seksual
suami istri adalah suci di sisi Allah, dan sebelum nikah, maka itu bukan suci.


Perbedaan antara waspada dan buruk sangka. Kalau buruk
sangka, itu dilakukan tanpa dalil, tanpa data. Tanpa data, kita langsung
curigai. Curiga adalah kehati-hatian kita dng argumentasi data, misal dari
treck recordnya, misal korupsi dll, yang bertentangan dengan syariat.
Mengenai kasus di atas, maka tinggal dilihat, apa email tersebut disertai data atau
tidak. Terus dicek kualitas data, dan juga pengirimnya. Sebagaimana ilmu
hadits, “rantainya” harus benar.

Cara menasehti orang yang lebih tua tentang penyakit hati :

Pertama, jangan mengguruinya. Tapi nasehatilah dengan
cara yang sebijak mungkin, sebagaimana yang dilakukan cucu Rasulullah,
Hasan dan Husin. Suatu hari mereka melihat seorang kakek yang wudhunya salah.
Mereka datangi kakek, kami ribut, merasa yang paling benar wudhunya. Tolong
Bapak menilai wudhu kami. Siapa yang paling baik. Demi Allah, wudhu kalian
baik, wudhu saya yang salah. Lakukan juga pendekatan terhadap orang yang
dicintai orang tua itu, misalnya istrinya, atau seorang ustadz yang dihormatinya.

Doa-doa khusus untuk melembutkan hati sehingga
hati kita lebih tentram :

Doa … Allahumma inni a’dzubika min ‚ilmin layanfa’, wa
… dari ilmu yang bermafaat, dari hati yang tidak khusyu, dari … … dst.
(nulisnya kalah cepat). Juga doa-doa dalam Al QUran. Dan supaya hati
kita lembut, kita perlu mentadabburi Al Quran, perlu mengingat hari akhir,
perlu puasa sunnah. Juga bisa dengan bangun malam. Dengannya kita bisa punya
kedekatan dengan Allah, dan dengan dekat pada Allah, maka hati kita akan
lembut.

Agar peka thdp dosa panca indra dan dosa hati. Dengan
upaya-upaya mensucikan
diri (3 langkah di atas.)

Cara supaya kita selalu berbaik sangka pada
Allah, terhadap cobaan yang bertentangan dengan keinginan kita yaitu :

Caranya adalah dengan melihat sesuatu yang kita tidak
suka itu, dari berbgai sudut pandang, tidak hanya dari kepentingan diri kita.

GIBAH :


Sebetulnya ghibah itu tidak boleh kita lakukan pada
siapa saja, termasuk pada non-muslim, yang hubungan kemanusiaan baik, yang
tidak memerangi umat Islam, maka kita jangan ghibah padanya. Kalau kita
melakukannya, maka kita menjauhkan dia dari Islam, dalam arti menodai Islam.
Kedua, definisi Ghibah, menyebut keburukan saudaranya, kalau dengar, dia tidak
suka. Kalau kita lihat di sini, maka tentu saja saudara seiman.
Mencerikan keburukan non-muslim, memang tidak masuk dalam definisi ini,
tapi kita tidak boleh menghibah orang tersebut, selama mereka baik, tidak
memerangi dsb.


Tidak ada komentar: