Perjalananku untuk menyelesaikan kuliah, aku anggap sebagai ujian dari Illahi. Jatuh bangun yang aku hadapi membutuhkan kedewasaan dalam menntukan pilihan maupun kedewasaan dalam aku bersabar dan ikhlas. Meskipun sedikit minder tapi aku akhirnya berhasil melewati masa itu dengan nilai PLUS. Hanya butuh beberapa waktu saja untuk menyelesaikan skripsiku dan menjadi kebanggaan kampus.
Setelah lulus, aku kira akan sangat mudah untuk aku memiliki pekerjaan yang sesungguhnya. Begitu lulus, aku keterima kerja di sebuah provider komunikasi terbesar di Indonesia. Aku sudah mengalami masa-masa training, magang dan berinterksi dengan dunia kerja sesungguhnya. Kemudian aku dipindahkan begitu saja pada posisi yang merugikan. Shock!!! Itulah yang terjadi pada saat diberitahukan.Begitu juga orang tua ku yang sudah sangat bangga, begitu juga pihak kampus yang mengganggap aku adalah mahasiswa kebanggaannya. Dan tiba-tiba, semua itu lenyap. Aku malu dan terpuruk.
Bebarapa saat aku malas bertemu orang, apalagi melamar pekerjaan. Rasanya aku tidak memiliki kemampuan untuk bisa bekerja. Sampai akhirnya aku bangkit setelah malam itu aku tersungkur dalam sujud kepada NYA. Aku melamar kesana-kemari, meskipun tanpa hasil yang jelas. Beberapa kali aku terbentur dengan “Hijab” yang aku gunakan. Pertama adalah perusahaan fashion terbesar di Indonesia. Aku telah melalui tahap-tahap dalam proses melamar dengan nilai memuaskan, bahkan aku adalah satu-satunya calon tunggal yang diprioritaskan oleh Manager HRD yang kelak akan menjadi atasan langsungku. Meskipun dia pernah bilang, “saya kan memperjuangkan kamu untuk bias keterima disini, meskipun saya akan menentang kebijakan perusahaan. Asal kamu mau berjuang bersama saya”. Tapi setelah itu, beliau tak mampu melawan arus birokrasi yang sudah terbentuk puluhan tahun itu.
Kemudian, beberapa kali aku terjebak lagi pada posisi yang sama diberbagai perusahaan. Bahkan perusahaan yang di media selalu mendukung acara-acara keagamaan, iapun mempermasalahan karyawan baru untuk bisa masuk jika menggunakan ‘pakaian keagamaan’. Sangat ironis. Buat aku memakai ‘hijab’ bukan pakain dan bukan trend, meskipun pakaianku belum sempurna menutup ‘hijab’ ku. Rezeki itu ada dimana-mana, dan ALLAH punya rencana terbaik untuk hamba-hambaNYA, tanpa harus aku merelakan melepaskan ‘prinsip’ku yang aku jaga sampai akhir zaman. Kemudian aku beralih dari perusahaan besar dan ternama ke perusahaan dalam negeri yang tidak mempermasalahkan ‘pakaian’. Tidak mudah menembus untuk masuk dalam instansi pemerintah, sedangkan mereka hanya menerima 100orang dari ratusan ribu orang yang berjuang masuk bersama saya. Pernah satu kali aku hampir pingsan di bus, hanya karena tidak sempat makan nasi dan berdiri terlalu lama di bus. “Perjuangan….!!!”, liriku dalam hati.
Kemudian datang tawaran untuk menggantikan posisi teman yang tidak bisa melanjutkan kerja pada perusahaan tempat dia bekerja. Awalnya aku setengah hati, karena aku sedang menjalani proses lamaran di berbagai perusahaan. Aku berfikir, bagaimana kalau tiba-tiba aku harus interview atau test-test lagi sedangkan aku sudah terikat dalam sebuah komitmen di perusahan itu. Bukankah aku melwati peluang yang ada, hanya demi bekerja satu setengah bulan diperusahaan kecil dengan system kekelurgaan. Sedangkan aku sangat menghindari perusahaan berazas kekeluargaan, karena aku berfikir tidak akan bisa bekerja dengan professional. Akan tetapi, setelah negosisasi dengan teman dan bosnya, aku menerima kerjaan untuk menggantikan temanku. Dengan catatan, aku bisa izin tidak kerja jika sewaktu-waktu ada panggilan proses melamar kerja.
Bekerja pada perusahaan baruku ini membuat aku memiliki suasana yang nyaman, sempat berharap untuk tetap bekerja di perusahaan ini. Meskipun, aku merasa ada yang aneh dalam system kerja dan lingkunganku. Waktu berlalu, aku dapat berinteraksi dengan mudah dengan sekitar. Dan anehnya, tidak ada satupun panggilan kerja lagi menghampirku. Detik-detik menjelang habis kontrak kerjaku, aku mulai cemas. Aku mulai melamar kerja lagi kemana-mana, bahkan temanku yang menawarkan pekerjaan tidak juga memberi kabar. Aku mulai resah dan sedih. Setelah merasa nyaman dikantor ini, haruskan aku berhneti dan menjadi penggangguran lagi?
Dan kemudian, Allah berkendak lain. Hari terkahir aku kerja, bossku malah menawarkan kerjaan pada bidang yang berbeda jauh dari bidangku kuliah dan bekerja sebelumnya. Jenis pekerjaan ini pun sebelumnya belum pernah ada dikantor ini, bossku sengaja membuat divisi baru khusus untuk aku. Aku senang dan menyambut baik, meskipun rada bimbang. Bukan karena tidak bersyukur, tapi karena tidak tahu apa jenis pekerjaanku. Aku akan bekerja apa? Bagaimana? Bisakah aku? Secara kerjaan itu adalah ‘engineering’, aku ga ada basic sama sekali kesana.
Beruntunglah aku mendapatkan atasan langusng yang baik dan pengertian, dia mengajarkan aku tentang banyak hal. Bahkan dia tidak ragu mengajakku “nyemplung” langsung dalam proyek dan mengenal lebih dekat dengan pekerjaanku. Dia juga bertanggung jawab untuk keselamatan diri dan kelangsungan pekerjaanku. Dulu pertama kali melihat atasanku ini, aku kagum dengan kesederhanaan, kecerdasan dan kharisma soleh yang terpancar. Beruntunglah aku, bahwa aku diberikan kesempatan besar kerja dan belajar, kesempatan baik dalam menjadikan ladang amal dan ibadah, dan juga sekaligus ‘godaan’ besar untuk aku. (“godaan”, out of record aja deh).
Allah memang selalu punya rencana yang tidak bisa kita tebak akan dibawa kemana arahnya. Kita hanya diminta olehNYA berusaha, berdoa dan bertawaqal. Kita diminta menulis harapan dengan ikhtiar, dan jangan lupa sediakan penghapus. Jikalau DIA mau menghapusnya dan menggantikan dengan catatan melalui pulpen NYA dan rencana NYA yang terindah. Aku kini mengeti arti slalu ada HIKMAH dibalik semua hal yang terjadi dalam hidup kita. Semoga kita bisa selalu istiqomah dan berserah diri padaNYA,amin.
Setelah lulus, aku kira akan sangat mudah untuk aku memiliki pekerjaan yang sesungguhnya. Begitu lulus, aku keterima kerja di sebuah provider komunikasi terbesar di Indonesia. Aku sudah mengalami masa-masa training, magang dan berinterksi dengan dunia kerja sesungguhnya. Kemudian aku dipindahkan begitu saja pada posisi yang merugikan. Shock!!! Itulah yang terjadi pada saat diberitahukan.Begitu juga orang tua ku yang sudah sangat bangga, begitu juga pihak kampus yang mengganggap aku adalah mahasiswa kebanggaannya. Dan tiba-tiba, semua itu lenyap. Aku malu dan terpuruk.
Bebarapa saat aku malas bertemu orang, apalagi melamar pekerjaan. Rasanya aku tidak memiliki kemampuan untuk bisa bekerja. Sampai akhirnya aku bangkit setelah malam itu aku tersungkur dalam sujud kepada NYA. Aku melamar kesana-kemari, meskipun tanpa hasil yang jelas. Beberapa kali aku terbentur dengan “Hijab” yang aku gunakan. Pertama adalah perusahaan fashion terbesar di Indonesia. Aku telah melalui tahap-tahap dalam proses melamar dengan nilai memuaskan, bahkan aku adalah satu-satunya calon tunggal yang diprioritaskan oleh Manager HRD yang kelak akan menjadi atasan langsungku. Meskipun dia pernah bilang, “saya kan memperjuangkan kamu untuk bias keterima disini, meskipun saya akan menentang kebijakan perusahaan. Asal kamu mau berjuang bersama saya”. Tapi setelah itu, beliau tak mampu melawan arus birokrasi yang sudah terbentuk puluhan tahun itu.
Kemudian, beberapa kali aku terjebak lagi pada posisi yang sama diberbagai perusahaan. Bahkan perusahaan yang di media selalu mendukung acara-acara keagamaan, iapun mempermasalahan karyawan baru untuk bisa masuk jika menggunakan ‘pakaian keagamaan’. Sangat ironis. Buat aku memakai ‘hijab’ bukan pakain dan bukan trend, meskipun pakaianku belum sempurna menutup ‘hijab’ ku. Rezeki itu ada dimana-mana, dan ALLAH punya rencana terbaik untuk hamba-hambaNYA, tanpa harus aku merelakan melepaskan ‘prinsip’ku yang aku jaga sampai akhir zaman. Kemudian aku beralih dari perusahaan besar dan ternama ke perusahaan dalam negeri yang tidak mempermasalahkan ‘pakaian’. Tidak mudah menembus untuk masuk dalam instansi pemerintah, sedangkan mereka hanya menerima 100orang dari ratusan ribu orang yang berjuang masuk bersama saya. Pernah satu kali aku hampir pingsan di bus, hanya karena tidak sempat makan nasi dan berdiri terlalu lama di bus. “Perjuangan….!!!”, liriku dalam hati.
Kemudian datang tawaran untuk menggantikan posisi teman yang tidak bisa melanjutkan kerja pada perusahaan tempat dia bekerja. Awalnya aku setengah hati, karena aku sedang menjalani proses lamaran di berbagai perusahaan. Aku berfikir, bagaimana kalau tiba-tiba aku harus interview atau test-test lagi sedangkan aku sudah terikat dalam sebuah komitmen di perusahan itu. Bukankah aku melwati peluang yang ada, hanya demi bekerja satu setengah bulan diperusahaan kecil dengan system kekelurgaan. Sedangkan aku sangat menghindari perusahaan berazas kekeluargaan, karena aku berfikir tidak akan bisa bekerja dengan professional. Akan tetapi, setelah negosisasi dengan teman dan bosnya, aku menerima kerjaan untuk menggantikan temanku. Dengan catatan, aku bisa izin tidak kerja jika sewaktu-waktu ada panggilan proses melamar kerja.
Bekerja pada perusahaan baruku ini membuat aku memiliki suasana yang nyaman, sempat berharap untuk tetap bekerja di perusahaan ini. Meskipun, aku merasa ada yang aneh dalam system kerja dan lingkunganku. Waktu berlalu, aku dapat berinteraksi dengan mudah dengan sekitar. Dan anehnya, tidak ada satupun panggilan kerja lagi menghampirku. Detik-detik menjelang habis kontrak kerjaku, aku mulai cemas. Aku mulai melamar kerja lagi kemana-mana, bahkan temanku yang menawarkan pekerjaan tidak juga memberi kabar. Aku mulai resah dan sedih. Setelah merasa nyaman dikantor ini, haruskan aku berhneti dan menjadi penggangguran lagi?
Dan kemudian, Allah berkendak lain. Hari terkahir aku kerja, bossku malah menawarkan kerjaan pada bidang yang berbeda jauh dari bidangku kuliah dan bekerja sebelumnya. Jenis pekerjaan ini pun sebelumnya belum pernah ada dikantor ini, bossku sengaja membuat divisi baru khusus untuk aku. Aku senang dan menyambut baik, meskipun rada bimbang. Bukan karena tidak bersyukur, tapi karena tidak tahu apa jenis pekerjaanku. Aku akan bekerja apa? Bagaimana? Bisakah aku? Secara kerjaan itu adalah ‘engineering’, aku ga ada basic sama sekali kesana.
Beruntunglah aku mendapatkan atasan langusng yang baik dan pengertian, dia mengajarkan aku tentang banyak hal. Bahkan dia tidak ragu mengajakku “nyemplung” langsung dalam proyek dan mengenal lebih dekat dengan pekerjaanku. Dia juga bertanggung jawab untuk keselamatan diri dan kelangsungan pekerjaanku. Dulu pertama kali melihat atasanku ini, aku kagum dengan kesederhanaan, kecerdasan dan kharisma soleh yang terpancar. Beruntunglah aku, bahwa aku diberikan kesempatan besar kerja dan belajar, kesempatan baik dalam menjadikan ladang amal dan ibadah, dan juga sekaligus ‘godaan’ besar untuk aku. (“godaan”, out of record aja deh).
Allah memang selalu punya rencana yang tidak bisa kita tebak akan dibawa kemana arahnya. Kita hanya diminta olehNYA berusaha, berdoa dan bertawaqal. Kita diminta menulis harapan dengan ikhtiar, dan jangan lupa sediakan penghapus. Jikalau DIA mau menghapusnya dan menggantikan dengan catatan melalui pulpen NYA dan rencana NYA yang terindah. Aku kini mengeti arti slalu ada HIKMAH dibalik semua hal yang terjadi dalam hidup kita. Semoga kita bisa selalu istiqomah dan berserah diri padaNYA,amin.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar