Jumat, 07 Mei 2021

PENYESALAN

 Sebelum detik-detik mencekam itu

Meskipun dengan dehidrasi di pagi hari, aku bertekad untuk berpuasa untuk mengendalikan emosiku yang selema beberapa hari ini meledak seperti bom yang siap meruntuhkan apa saja didekatku. Tapi pagi itu Mama sudah marah, dan ngedumel sepanjang hari. Katanya, aku tidak baik tidur terus, mengurung diri dikamar. katanya 'aku tidak sopan, bagaimanapun mereka ortuku, tidak boleh dilakukan begitu!'. Papa berkata, Mama lemes Ta.

Tapi hatiku masih keras bagai batu!

“Mau ke dokter ga?”

Ucapku sedikit keras, karena aku dikamar dan tetap tidak mau keluar kamar. Kemudian Mama memasak. Kadang Mama bercerita ke Papa bagaimana ia marah, kesakitan dan menyerah. Ini bukan yang pertama buat Mama memang berkata begini, entah sudah berapa kali sejak sakit dalam masa pandemi ini.

Aku berburuk sangka. Aku hanya merasa ini cara Mama menarik aku keluar, mencari perhatian setiap anak-anaknya. ‘Ah, nanti juga baik lagi!’, gumamku. Setiap kali ia mengeluh dan didatangi anak-anaknya, Mama akan kembali membaik.  ‘Ya sudah besok saja, besok insyaAlloh di hari Jumat, aku akan mulai memasak dan berbaikan dengan ortuaku’, lanjutku.

Kemudian sore hari, aku menulis disecarcik kertas. Bagaimana aku sedih, putus asa, marah, tidak ikhlas dengan keadaan ini, dan mengharapkan pergi dari dunia ini. Aku menangis sejadi-jadinya….

Aku memesan makanan untukku berbuka, karena aku tidak ingin keluar kamar. Bisa jadi, Mama Papa akan mendapati mataku yang bengkak. Aku memesan Pangsit dan martabak duren. Aku benar-benar tidak ingin membagikannya. Aku bergumam, “ini sisa uangku yang aku habiskan, aku mau makan semauku, aku mau menikmati hidupku walau cuma segini. Aku tak mau berbagi!”.

Kemudian aku bawa semua makanan itu kekamar. Papa meminta aku menelpon Kakak perempuanku untuk meminjam alat tensi meter. Tapi aku bilang, tidak ada yang punya. Kemudian tetap minta disambungkan melalui telponku. Aku mematikan aplikasi whatsapp, aku benar-benar menarik diri dari dunia sosialiasi. Sehingga aku menghubungi kakakku dengan hp mama yang tergeletak.

Aku yang masih emosi, menanggapi pesan untuk mengurus Mama dari kakak perempuanku pertama dengan jutek. Dalam hatiku berkata, ‘Kenapa harus selalu aku? Dia Cuma bisa nyuruh-nyuruh aja. Tapi apa mau datang kemari urus Mama?’ Aku kesal sekali. Aku sangat kesal….!!!

Tapi tetap aku cek keadaan Mama. Karena Papa yang meminta.

“Coba cek, kok badannya dingin. Masih nafas ga?”

Langsung aku cek, kaki tanganannya memang dingin, tapi suhunya masih sama denganku. Aku minta papa pegang tanganku yang juga dingin untuk memastikan bahwa bukan badan Mama yang dingin tapi tangan Papa yang panas. Tapi kaki Mama satu tergulai kebawah, aku naikan keatas bangku karena pinta Papa.

“Ayo bawa kerumah sakit, daripada khawatir!” kataku, karena sejak pagi Mama menolak dibawa ke Rumah Sakit. Tapi Papa tampak khawatir. Aku sedikit gelisah dengan ucapan papa, 'apaan sih Pa, kok Papa bisa bilang seperti itu sih?'

“Nanti saja kalau Mama bangun, kalau sedang tidur dibangunin marah dia”, kata Papa.

“Ya kalau emang urgent, jangan ditunda-tunda lagi Pa”. Aku bingung, kenapa harus menunggu bangun kalau memang kondisinya mengkhawatirkan? Bukankah ini tandanya harus segera?

Papa kemudian minta menghubungi Kakak laki-lakiku untuk ijin bawa kerumah sakit. Aku telp dan ijin bawa Mama kerumah sakit. Meski ia menawarkan membawa ke rumah sakit, tapi aku tolak. Karena ia sedang dikantor. Sedangkan Papa masih belum yakin bawa sekarang, mau tetap menunggu Mama bangun.

Aku lalu bilang ke Papa yang sedang duduk didepan Mama, “Ya udah, tapi kalau Mama udah bangun kita langsung berangkat ya Pa! Papa kabarin aja, aku langsung beberes ini.”

Kemudian aku kembali kekamar, sholat Magrib dan membaca surat al Kahfi.

--------------------------------------------------------------------------------------------------

Detik-detik mencekam

Tiba-tiba dalam sholatku detak jantungku berubah menderu kencang, nafasku tersengal, tanganku gemetar, air mataku mengalir. Antara ingin menangis dan ingin berteriak. Aku yang menyadari ada yang tidak beres dengan kondisi ini kemudian berdoa dalam sujud terakhir sholat isya.

Allahumafighrli waliwalidaya warrhamhuma kama robbayani soghiro

Ya Alloh, ampunilah aku dan kedua orang tuaku, dan sayangilah mereka seperti aku waktu kecil.

Bismillahilladzi layaduruma’asmihi saiunfil ardhi wala fii sam’I wahuwa samiul’alim

Dengan menyebut nama Alloh, tidak ada bahaya yang akan terjadi didunia dan diakhirat tanpa seijinmu.

Aku yakin, aku yakin, tidak ada satupun bahaya didunia ini tanpa seiijinMu ya Allah, tolonglah kami, tolonglah Mama,,, Dalam ketakutanku aku berdoa lirih.

 Dengan tubuh gemetar, aku perlahan menyelesaikan sujudku dan sholatku. Bergegas aku membangunkannya. Tapi yang aku lihat, kondisinya berbeda. Biru, dingin, tidak merespon.

Aku terlambat…

Aku harus apa?

TIDAK MUNGKIN…!!!

 

Dalam kekosongan pikiranku, aku paksa Papaku mengambil keputusan. Apakah dibawa mobil online atau ambulance. Ini kritis! Tidak ada waktu untuk menunggu lagi ia bangun, karena mungkin kami akan terlambat.

Aku bergumam, apa tubuh membiru ini mungkin karena jantung? Dengan posisi badan Mama miring kekiri. Kemudian aku balik badannya, aku atur posisi tidurnya, agar darah mengalir lancar. Aku lakukan pertolongan pertama dengan tepok-tepok lengan kiri mama, sambil memberikan tangannya balsam. Aku terus memanggil, “Ma, bangun Ma! Ayo Ma bangun!

“Tentukan Pa, mau ambulance atau online?”, pintaku cepat ke Papa. 

Papa masih tidak bisa menentukan. Kekhawatiran Papa adalah jika membawa dengan Ambulance akan menjadi sorotan tetangga (karena ini masa pandemi, dikira corona), sedangkan dengan mobil online kita  tidak akan sanggup digendong berdua.

“Kalau gitu pakai mobil tetangga, kita telp kakak perempuan kedua agar dia ijin ke temannya yang tetangga kita. Ini harus segera!” aku sedikit berteriak dengan suara parau dan bergetar. Papa pun bingung, takut.

Kemudian aku meminta tolong kepada kakak perempuanku pertama. Tapi kendala komunikasi. Aku minta tolong kakak laki-lakiku, tapi aku tidak ingin dia yang jauh disana kemudian ada bahaya dalam berkendara jika aku beritahukan kondisi sebenarnya. Sedangkan kakak perempuanku yang kedua, hanya bisa aku komunikasikan, karena ia sedang isolasi mandiri.

Tapi kemudian kakak perempuan kedua datang beserta suaminya, ketika ia melihat Mama dalam keadaan biru dan kaku, ia seketika langsung berteriak dan histeris menangis, memeluknya.

Aku?

Aku hanya terdiam, terpaku, terus menempuk lengannya.

Tak bisa aku menangis, masih ada harapan aku bisa menolong Mama. Tidak percaya dengan apa yang aku rasa. Tidak mungkin. Mama, harus bangun!

Aku belum meminta maaf kepada Mama! 😭

----------------------------------------------------------------------------------------------------

Waktu berlalu setelah kepergian Mama.

Yang lain bisa cerita tentang betapa mereka telah berbuat sesuatu untuk Mama. Betapa mereka merasa mereka kecewa terhadap sikapku diakhir hayatnya Mama. Aku terima aku disalahkan, karena memang aku salah, aku tidak akan membela diri.

Aku masih terdiam, terpaku, menangis sendirian dalam kamarku.

Meskipun ada sebagian orang berkata, ‘kamu telah berbuat semampu kamu merawat Mama, bersyukurlah karena sebelum akhir hayatnya, kamu telah berbuat untuk menjaga Mama”.

Dalam hatiku, ‘ia betul, tapi akhirnya aku mengecewakan Mama. Bukan akhir yang ingin aku banggakan!’

Malam harinya, aku bermimpi bertemu Mama. Tanpa aku tahu, aku dimana, aku hanya teringat sedang bercengkrama dengan Mama. Saat itu ada aku, mama dan entah siapa satu lagi. Kita ngobrol sambil tertawa. Tanpa aku tahu, apa yang sedang kami bicarakan dan tertawakan.

Kemudian hatiku menjadi tenang. Karena mungkin Mama sudah senang disana. Mama meninggal dihari Kamis (malam Jumat), yang menurut hadist, dijauhkan dari fitnah kubur. Perlahan aku menata hatiku kembali.

Ternyata tidak semudah itu, aku sangat merindu dengan Mama. Aku rindu marahnya, aku rindu juteknya ke aku, aku rindu setiap kali Mama meminta diambilkan makan/minum, aku rindu saat duduk berdua dengan mama diteras rumah sambil meminum minuman hangat sambil mendengar anak tetangga mengaji, atau mengobrol tentang apa saja yang bisa kita ceritakan. ‘Aku sudah ikhlas Ma, tapi aku rindu sekali….’, gumamku.

Dalam rindu dan penyesalanku aku tersadar.

Meski diri ini tak mampu mencium tangannya dan meminta maaf, meski jiwa ini tak mampu memeluk mama dan berbincang dengan Mama, tapi akan aku ganti dengan doa-doa dan amalan-amalan yang dapat meringankan Langkah Mama diperjalanan keabadiannya.

Aku menangis sejadinya…. Aku rindu Ma…

Aku mungkin tidak seperti anakmu yang lain, yang mampu mengekspresikan masalahnya kepadamu. Aku memendam semua sendirian, untuk aku kemudian adukan pada Robbku. Aku tak mau menambah bebanmu. Aku tak mau menambah beban pikiranmu.

Begitupun Ketika aku sedang sedih.

Aku menangis sendirian Ma, aku menuliskannya dalam secarcik kertas. Aku tak mampu bercerita dengan mudahnya. Aku sungguh kehilangan peganganku.


Tapi aku tahu, Alloh itu baik sekali dengan kita Ma. Alloh Maha Tahu.


IA memanggilmu, agar engkau tidak perlu lagi merasa kesakitan sendirian.

Ia melepaskanmu dari kekhawatiran, kesedihan dan ketakutanmu yang membebanimu.

IA menyayangimu, memanggilmu diwaktu baik.

IA menerima amalan hatimu, karena hanya orang-orang berhati baik yang mampu pergi diwaktu baik ini.

Sungguh…. IA sangat menyayangimu Ma.

 

IA pun menegurku.

IA jadikan kehilangku atas kepergianmu sebagai teguran/tamparan keras dalam hatiku.

IA menjadikan hatiku kembali tersadar bahwa masalah yang aku anggap masalah, bukan masalah.

IA memberi tahu, masalah sesungguhnya ada dihatiku.

Tapi IA mau menolongku Ma.

IA menjadikan hatiku dibalikan seketika sama ALLOH untuk kembali kepadaNYA

IA memberikan aku memperbaiki diri.

Karena RahmatNYA lebih besar daripada MurkaNYA

Seperti yang selalu Mama bilang, bahwa Allah Maha Penyayang. 


Aku sadar, bagaimana ALLOH menolong aku dengan caraNYA.

Banyak sekali Ma, pelajaran yang ALLOH kasih ke aku.


Tentang waktu yang tidak bisa diputar kembali

Tentang langkah yang harus aku pijak secara hati-hati, karena jejak tak pernah bisa dihapus

Tentang berbuat baik yang tidak bisa ditunda-tunda

Tentang banyak kesempatan yang diberi, tapi banyak yang terbuang sia-sia

Tentang penyesalan yang tidak akan mengembalikan apapun

Tentang adanya harapan yang masih ALLOH berikan untukku

Tentang kesabaran yang tidak bisa dibeli dengan sekali hijrah

Tentang kedewasaan yang dituntut dari seorang Muslimah, karena perasaan itu menipu

Tentang ridho dengan ketetapan ALLOH adalah kunci merasa tenang

 

Selang beberapa saat, aku bermimpi tentang perjalananku yang berliku, banyak hambatan, tapi Mama disisiku dan berkata ‘Sabar ya Ta’. Satu kata yang tidak pernah aku dengar darimu selama Mama disisiku. Karena Mama selalu mau menjadikan aku KUAT!

 

Alhamdulillah ala Kulli hal

Alloh memberikan aku kesempatan memberangkatkan Mama umroh, meskipun Mama bilang ‘jadi kamu kerja skrg untuk biayain Mama umroh aja deh!’.  Karena setelah itu, aku di PHK. ALLOH memberikan aku kesempatan menjaga Mama dengan tidak ada pekerjaan. Sehingga aku banyak dirumah, bercengkrama dengan Mama, meskipun banyak salah dan khilaf. Banyak waktu aku memperbaiki kedekatan aku denganmu, yang dulu tidak bisa kuraih saat bekerja. Menyelesaikan konflik-konflik dulu yang sering kita alami.

Aku pun belajar memasak darimu, masakan kesukaanmu. Sempat Mama berkata, ‘kalau tidak ada Ita, Mama bisa kesepian deh sakit begini’. Karena pendemi membuat, kakak-kakak sulit kerumah dan berinteraksi sama Mama.

Aku ingat waktu itu ke seorang ustadzah. Kata Ustadzah itu, mungkin ada dalam hati Mama yang tidak mau ditinggal sendirian. Sehingga membuat langkahku untuk mendapat jodoh kehalang. Aku jadi teringat waktu akan bekerja di Australia, mama menangis tidak beri aku ijin kesana, sambil berkata kalau mama nanti meninggal kamu ga bisa liat Mama!’. 

Dan aku tidak jadi pergi ke Australia.

Kemudian Ustadazah meminta aku untuk meminta doa sama Mama, dan meyakinkan Mama, kalaupun aku menikah, aku akan tetap menjaganya. Dan itu aku lakukan.

Setelah itu, kami semakin dekat. Semakin solid. Aku bersyukur pernah melakukan sedikitnya, hal yang baik yang bisa menyenangkan Mama. Meski, aku banyak khilafnya.


ALLOH MAHA TAHU, SEDANGKAN AKU TIDAK TAHU

BOLEH JADI KAMU MEMBENCI SESUATU TAPI ITU BAIK BAGIMU, BEGITUPUN SEBALIKNYA. BOLEH JADI KAMU MENCINTAI SESUATU TAPI ITU BURUK BAGIMU.


Maka kini, aku belajar kembali kejalan ALLOH, hijarah kembali, dan belajar menerima ketetapan ALLOH dengan ridho dan penuh mohon ampunan.

Aku menjadi sangat TAKUT kepada ALLOH. Dalam ketakutanku, kini aku bisa menangis kepada Robbku. Aku takut Robbku marah kepadaku. Aku takut tidak dapat mencium Jannah dan bertemu dengan keluargaku di Jannah firdausNYA karena kedurhakaanku kepadamu Ma.

Wahai Dzat yang Maha Pengampun dan menyukai hambaMU yang memohon ampun, maka ampunilah aku. Terimalah tobatku. Jadikan aku termasuk orang-orang yang KAU terima taubatNYA.

Maka ingatlah ini wahai jiwa yang berlumur dosa, jadikanlah tulisan ini sebagai pengingat diri.

Jangan lengah dengan perasaan! 

Jangan ikuti hawa nafsumu yang bergejolak. 

Ingat:

Waktu tidak pernah diputar kembali, Langkah tidak pernah bisa dihapus jejaknya.

HATI-HATILAH!!!


Tidak ada komentar: