Sebelum detik-detik mencekam itu
Meskipun dengan
dehidrasi di pagi hari, aku bertekad untuk berpuasa untuk mengendalikan emosiku yang selema beberapa hari ini meledak seperti bom yang siap meruntuhkan apa saja didekatku. Tapi pagi itu Mama sudah
marah, dan ngedumel sepanjang hari. Katanya, aku tidak baik tidur terus, mengurung diri dikamar. katanya 'aku tidak sopan, bagaimanapun mereka ortuku, tidak boleh dilakukan begitu!'. Papa
berkata, Mama lemes Ta.
Tapi hatiku masih
keras bagai batu!
“Mau ke dokter
ga?”
Ucapku sedikit
keras, karena aku dikamar dan tetap tidak mau keluar kamar. Kemudian Mama memasak.
Kadang Mama bercerita ke Papa bagaimana ia marah, kesakitan dan menyerah. Ini bukan
yang pertama buat Mama memang berkata begini, entah sudah berapa kali sejak
sakit dalam masa pandemi ini.
Aku berburuk
sangka. Aku hanya merasa ini cara Mama menarik aku keluar, mencari perhatian
setiap anak-anaknya. ‘Ah, nanti juga baik lagi!’, gumamku. Setiap kali ia mengeluh dan didatangi anak-anaknya, Mama akan kembali membaik. ‘Ya sudah besok saja, besok
insyaAlloh di hari Jumat, aku akan mulai memasak dan berbaikan dengan ortuaku’,
lanjutku.
Kemudian sore
hari, aku menulis disecarcik kertas. Bagaimana aku sedih, putus asa, marah,
tidak ikhlas dengan keadaan ini, dan mengharapkan pergi dari dunia ini. Aku
menangis sejadi-jadinya….
Aku memesan
makanan untukku berbuka, karena aku tidak ingin keluar kamar. Bisa jadi, Mama Papa akan mendapati mataku yang bengkak. Aku memesan Pangsit dan martabak duren. Aku benar-benar tidak
ingin membagikannya. Aku bergumam, “ini sisa uangku yang aku habiskan, aku mau
makan semauku, aku mau menikmati hidupku walau cuma segini. Aku tak mau
berbagi!”.
Kemudian aku bawa
semua makanan itu kekamar. Papa meminta aku menelpon Kakak perempuanku untuk
meminjam alat tensi meter. Tapi aku bilang, tidak ada yang punya. Kemudian
tetap minta disambungkan melalui telponku. Aku mematikan aplikasi whatsapp, aku benar-benar menarik diri dari dunia sosialiasi. Sehingga aku menghubungi kakakku dengan hp mama yang tergeletak.
Aku yang masih
emosi, menanggapi pesan untuk mengurus Mama dari kakak perempuanku pertama
dengan jutek. Dalam hatiku berkata, ‘Kenapa harus selalu aku? Dia Cuma bisa
nyuruh-nyuruh aja. Tapi apa mau datang kemari urus Mama?’ Aku kesal sekali.
Aku sangat kesal….!!!
Tapi tetap aku
cek keadaan Mama. Karena Papa yang meminta.
“Coba cek, kok
badannya dingin. Masih nafas ga?”
Langsung aku cek,
kaki tanganannya memang dingin, tapi suhunya masih sama denganku. Aku minta
papa pegang tanganku yang juga dingin untuk memastikan bahwa bukan badan Mama yang
dingin tapi tangan Papa yang panas. Tapi kaki Mama satu tergulai kebawah, aku
naikan keatas bangku karena pinta Papa.
“Ayo bawa kerumah
sakit, daripada khawatir!” kataku, karena sejak pagi Mama menolak dibawa ke Rumah Sakit. Tapi Papa tampak khawatir. Aku sedikit gelisah dengan ucapan papa, 'apaan sih Pa, kok Papa bisa bilang seperti itu sih?'
“Nanti saja kalau
Mama bangun, kalau sedang tidur dibangunin marah dia”, kata Papa.
“Ya kalau emang
urgent, jangan ditunda-tunda lagi Pa”. Aku bingung, kenapa harus menunggu bangun kalau memang kondisinya mengkhawatirkan? Bukankah ini tandanya harus segera?
Papa kemudian
minta menghubungi Kakak laki-lakiku untuk ijin bawa kerumah sakit. Aku telp dan
ijin bawa Mama kerumah sakit. Meski ia menawarkan membawa ke rumah sakit, tapi aku tolak. Karena ia sedang dikantor. Sedangkan Papa masih belum yakin bawa sekarang, mau
tetap menunggu Mama bangun.
Aku lalu bilang
ke Papa yang sedang duduk didepan Mama, “Ya udah, tapi kalau Mama udah bangun
kita langsung berangkat ya Pa! Papa kabarin aja, aku langsung beberes ini.”
Kemudian aku kembali kekamar, sholat Magrib dan membaca surat al Kahfi.
--------------------------------------------------------------------------------------------------
Detik-detik
mencekam
Tiba-tiba dalam sholatku detak jantungku berubah menderu kencang, nafasku tersengal, tanganku gemetar, air mataku mengalir. Antara ingin menangis dan ingin berteriak. Aku yang menyadari ada yang tidak beres dengan kondisi ini kemudian berdoa dalam sujud terakhir sholat isya.
“Allahumafighrli
waliwalidaya warrhamhuma kama robbayani soghiro”
Ya Alloh,
ampunilah aku dan kedua orang tuaku, dan sayangilah mereka seperti aku waktu
kecil.
“Bismillahilladzi
layaduruma’asmihi saiunfil ardhi wala fii sam’I wahuwa samiul’alim”
Dengan menyebut
nama Alloh, tidak ada bahaya yang akan terjadi didunia dan diakhirat tanpa
seijinmu.
Aku yakin, aku yakin, tidak ada satupun bahaya didunia ini tanpa seiijinMu ya Allah, tolonglah kami, tolonglah Mama,,, Dalam ketakutanku aku berdoa lirih.
Dengan tubuh gemetar, aku perlahan menyelesaikan sujudku dan sholatku. Bergegas aku membangunkannya. Tapi yang aku lihat, kondisinya berbeda. Biru, dingin, tidak merespon.
Aku terlambat…
Aku harus apa?
TIDAK MUNGKIN…!!!
Dalam kekosongan
pikiranku, aku paksa Papaku mengambil keputusan. Apakah dibawa mobil online
atau ambulance. Ini kritis! Tidak ada waktu untuk menunggu lagi ia bangun,
karena mungkin kami akan terlambat.
Aku bergumam, apa tubuh membiru ini mungkin karena jantung? Dengan posisi badan Mama miring kekiri. Kemudian aku balik badannya, aku atur posisi tidurnya, agar darah mengalir lancar. Aku lakukan pertolongan pertama dengan tepok-tepok lengan kiri mama, sambil memberikan tangannya balsam. Aku terus memanggil, “Ma, bangun Ma! Ayo Ma bangun!”
“Tentukan Pa, mau
ambulance atau online?”, pintaku cepat ke Papa.
Papa masih tidak bisa menentukan. Kekhawatiran Papa adalah jika membawa dengan Ambulance akan menjadi
sorotan tetangga (karena ini masa pandemi, dikira corona), sedangkan dengan mobil online kita tidak akan sanggup digendong berdua.
“Kalau gitu pakai
mobil tetangga, kita telp kakak perempuan kedua agar dia ijin ke temannya yang
tetangga kita. Ini harus segera!” aku sedikit berteriak dengan suara parau dan
bergetar. Papa pun bingung, takut.
Kemudian aku
meminta tolong kepada kakak perempuanku pertama. Tapi kendala komunikasi. Aku
minta tolong kakak laki-lakiku, tapi aku tidak ingin dia yang jauh disana
kemudian ada bahaya dalam berkendara jika aku beritahukan kondisi sebenarnya. Sedangkan kakak
perempuanku yang kedua, hanya bisa aku komunikasikan, karena ia sedang isolasi
mandiri.
Tapi kemudian
kakak perempuan kedua datang beserta suaminya, ketika ia melihat Mama dalam keadaan biru dan kaku, ia seketika langsung berteriak dan histeris menangis,
memeluknya.
Aku?
Aku hanya
terdiam, terpaku, terus menempuk lengannya.
Tak bisa aku
menangis, masih ada harapan aku bisa menolong Mama. Tidak percaya dengan apa
yang aku rasa. Tidak mungkin. Mama, harus bangun!
Aku belum meminta
maaf kepada Mama! 😭
----------------------------------------------------------------------------------------------------
Waktu berlalu setelah kepergian Mama.
Yang lain bisa
cerita tentang betapa mereka telah berbuat sesuatu untuk Mama. Betapa mereka
merasa mereka kecewa terhadap sikapku diakhir hayatnya Mama. Aku terima aku disalahkan, karena memang
aku salah, aku tidak akan membela diri.
Aku masih
terdiam, terpaku, menangis sendirian dalam kamarku.
Meskipun ada sebagian orang berkata, ‘kamu telah berbuat semampu kamu merawat Mama,
bersyukurlah karena sebelum akhir hayatnya, kamu telah berbuat untuk menjaga
Mama”.
Dalam hatiku, ‘ia
betul, tapi akhirnya aku mengecewakan Mama. Bukan akhir yang ingin aku
banggakan!’
Malam harinya,
aku bermimpi bertemu Mama. Tanpa aku tahu, aku dimana, aku hanya teringat
sedang bercengkrama dengan Mama. Saat itu ada aku, mama dan entah siapa satu
lagi. Kita ngobrol sambil tertawa. Tanpa aku tahu, apa yang sedang kami
bicarakan dan tertawakan.
Kemudian hatiku
menjadi tenang. Karena mungkin Mama sudah senang disana. Mama meninggal dihari
Kamis (malam Jumat), yang menurut hadist, dijauhkan dari fitnah kubur. Perlahan
aku menata hatiku kembali.
Ternyata tidak
semudah itu, aku sangat merindu dengan Mama. Aku rindu marahnya, aku rindu
juteknya ke aku, aku rindu setiap kali Mama meminta diambilkan makan/minum, aku
rindu saat duduk berdua dengan mama diteras rumah sambil meminum minuman hangat
sambil mendengar anak tetangga mengaji, atau mengobrol tentang apa saja yang
bisa kita ceritakan. ‘Aku sudah ikhlas Ma, tapi aku rindu sekali….’, gumamku.
Dalam rindu
dan penyesalanku aku tersadar.
Meski diri ini
tak mampu mencium tangannya dan meminta maaf, meski jiwa ini tak mampu memeluk
mama dan berbincang dengan Mama, tapi akan aku ganti dengan doa-doa dan
amalan-amalan yang dapat meringankan Langkah Mama diperjalanan keabadiannya.
Aku menangis
sejadinya…. Aku rindu Ma…
Aku mungkin tidak
seperti anakmu yang lain, yang mampu mengekspresikan masalahnya kepadamu. Aku
memendam semua sendirian, untuk aku kemudian adukan pada Robbku. Aku tak mau
menambah bebanmu. Aku tak mau menambah beban pikiranmu.
Begitupun Ketika
aku sedang sedih.
Aku menangis
sendirian Ma, aku menuliskannya dalam secarcik kertas. Aku tak mampu bercerita
dengan mudahnya. Aku sungguh kehilangan peganganku.
Tapi aku tahu, Alloh itu baik sekali dengan kita Ma. Alloh Maha Tahu.
IA memanggilmu,
agar engkau tidak perlu lagi merasa kesakitan sendirian.
Ia melepaskanmu dari kekhawatiran, kesedihan dan ketakutanmu yang membebanimu.
IA menyayangimu,
memanggilmu diwaktu baik.
IA menerima
amalan hatimu, karena hanya orang-orang berhati baik yang mampu pergi diwaktu
baik ini.
Sungguh…. IA
sangat menyayangimu Ma.
IA pun menegurku.
IA jadikan
kehilangku atas kepergianmu sebagai teguran/tamparan keras dalam hatiku.
IA menjadikan
hatiku kembali tersadar bahwa masalah yang aku anggap masalah, bukan masalah.
IA memberi tahu,
masalah sesungguhnya ada dihatiku.
Tapi IA mau
menolongku Ma.
IA menjadikan
hatiku dibalikan seketika sama ALLOH untuk kembali kepadaNYA
IA memberikan aku
memperbaiki diri.
Karena
RahmatNYA lebih besar daripada MurkaNYA
Aku sadar, bagaimana ALLOH menolong aku dengan caraNYA.
Banyak sekali Ma, pelajaran yang
ALLOH kasih ke aku.
Tentang waktu
yang tidak bisa diputar kembali
Tentang langkah yang harus aku pijak secara hati-hati, karena jejak tak pernah bisa dihapus
Tentang berbuat
baik yang tidak bisa ditunda-tunda
Tentang banyak
kesempatan yang diberi, tapi banyak yang terbuang sia-sia
Tentang penyesalan
yang tidak akan mengembalikan apapun
Tentang adanya
harapan yang masih ALLOH berikan untukku
Tentang kesabaran yang tidak bisa dibeli dengan sekali hijrah
Tentang
kedewasaan yang dituntut dari seorang Muslimah, karena perasaan itu menipu
Tentang ridho
dengan ketetapan ALLOH adalah kunci merasa tenang
Selang beberapa saat, aku bermimpi tentang perjalananku yang berliku, banyak hambatan, tapi Mama disisiku dan berkata ‘Sabar ya Ta’. Satu kata yang tidak pernah aku dengar darimu selama Mama disisiku. Karena Mama selalu mau menjadikan aku KUAT!
Alhamdulillah
ala Kulli hal
Alloh memberikan
aku kesempatan memberangkatkan Mama umroh, meskipun Mama bilang ‘jadi kamu
kerja skrg untuk biayain Mama umroh aja deh!’. Karena setelah itu, aku di PHK. ALLOH memberikan aku
kesempatan menjaga Mama dengan tidak ada pekerjaan. Sehingga aku banyak
dirumah, bercengkrama dengan Mama, meskipun banyak salah dan khilaf. Banyak
waktu aku memperbaiki kedekatan aku denganmu, yang dulu tidak bisa kuraih saat
bekerja. Menyelesaikan konflik-konflik dulu yang sering kita alami.
Aku pun belajar
memasak darimu, masakan kesukaanmu. Sempat Mama berkata, ‘kalau tidak ada Ita,
Mama bisa kesepian deh sakit begini’. Karena pendemi membuat, kakak-kakak sulit
kerumah dan berinteraksi sama Mama.
Aku ingat waktu itu ke seorang ustadzah. Kata Ustadzah itu, mungkin ada dalam hati Mama yang tidak mau ditinggal sendirian. Sehingga membuat langkahku untuk mendapat jodoh kehalang. Aku jadi teringat waktu akan bekerja di Australia, mama menangis tidak beri aku ijin kesana, sambil berkata ‘kalau mama nanti meninggal kamu ga bisa liat Mama!’.
Dan aku tidak jadi pergi ke
Australia.
Kemudian Ustadazah meminta aku untuk meminta doa sama Mama, dan meyakinkan Mama, kalaupun aku menikah, aku akan tetap menjaganya. Dan itu aku lakukan.
Setelah itu, kami
semakin dekat. Semakin solid. Aku bersyukur pernah melakukan sedikitnya, hal
yang baik yang bisa menyenangkan Mama. Meski, aku banyak khilafnya.
ALLOH MAHA TAHU,
SEDANGKAN AKU TIDAK TAHU
BOLEH JADI KAMU
MEMBENCI SESUATU TAPI ITU BAIK BAGIMU, BEGITUPUN SEBALIKNYA. BOLEH JADI KAMU
MENCINTAI SESUATU TAPI ITU BURUK BAGIMU.
Maka kini, aku
belajar kembali kejalan ALLOH, hijarah kembali, dan belajar menerima ketetapan
ALLOH dengan ridho dan penuh mohon ampunan.
Aku menjadi
sangat TAKUT kepada ALLOH. Dalam ketakutanku, kini aku bisa menangis kepada
Robbku. Aku takut Robbku marah kepadaku. Aku takut tidak dapat mencium Jannah dan
bertemu dengan keluargaku di Jannah firdausNYA karena kedurhakaanku kepadamu Ma.
Wahai Dzat yang Maha Pengampun dan menyukai hambaMU yang memohon ampun, maka ampunilah aku. Terimalah tobatku. Jadikan aku termasuk orang-orang yang KAU terima taubatNYA.
Maka ingatlah ini
wahai jiwa yang berlumur dosa, jadikanlah tulisan ini sebagai pengingat
diri.
Jangan lengah dengan perasaan!
Jangan ikuti hawa nafsumu yang bergejolak.
Ingat:
Waktu tidak pernah diputar kembali, Langkah tidak
pernah bisa dihapus jejaknya.
HATI-HATILAH!!!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar