Hujan tak pernah salah, hujan hanya
perantara untuk ‘ngetes’ mana yang lemah dan mana yang kuat. Hujan itu penuh
keindahan, setiap kali airnya menetes membasahi bumi, rintiknya selalu bernada
merdu. Ketika angin dan suara petir menandai datangnya hujan, udara menunjukan
kesejukannya. Dengan sekejap, semua manusia berlalu langsang memasang ‘tameng’,
entah dengan payungnya, jaketnya atau sekedar topi sederhana. Sedangkan sang
Kodok bernyanyi bergembira dan burung berlari kesana kemari mencari
perlindungan untuknya dan keluarganya. Aku? Setiap kali bertemu hujan rasanya
ingin bermain menyambutnya, jika memungkinkan.
Suatu ketika dulu, saat aku masih
memiliki ‘kuda’ sendiri, aku senang sekali berada diatas tunggangan dan
merasakan Air Conditioner menyatu dengan udara hujan yang dingin. Rintikan hujan
yang bernyanyi bersama lagu-lagu melankolis dari radio. Meskipun kadang juga
takut, ‘kuda’ku tidak bisa melaju karena air yang menggenang jalanan. Jadi lebih
baik aku berhenti disebuah restoran untuk memesan panganan dan menikmatinya diatas
‘kuda’. Walapun tak selamanya menyenangkan, karena bisa juga aku memilih
menangis seadanya. Melewati ‘kuda-kuda’ lain, pepohonan dan jalanan, aku
meneteskan air mataku. Terbawa suasana? Ia, memang begitulah aku. Aku itu melankolis
yang plagmatis.
Sekian tahun aku berusaha
mengendalikan perasaanku, tak pernah aku ceritakan lagi pada secarik kertas
atau pada seorang manusia. Aku lebih suka menceritakannya pada Sang Pemilik
Hati. Sampai saat ini akupun harus belajar menulis kembali. Belajar menceritakan,
belajar mengutarakan perasaan. Aku tahu, tidak ada satupun manusia yang
mengerti Bahasa manusia seutuhnya, mereka hanya mengerti sebagian atau malah
berpura-pura mengerti. Karena soal komunikasi, ada banyak makna. Tapi kelak, suatu
hari nanti mungkin ‘dia’ bisa jadi belum mengerti apa maksud kata-kata terucap.
Tapi aku tahu, hati yang menyatu akan selalu dapat berbicara dengan bahasanya.
Detik-detik ketika aku menunggunya,
aku bahkan tak bisa membayangkan seperti apa dia, dimana dia, bagaimana dia,
kapankah kita menyatu. Dulu aku selalu berangan seperti ini dan seperti itu.
Tapi dengan begitu aku lupa bagaimana nikmatnya bertawakal kepada Robb. Karena
setiap kali aku terlalu berharap, setiap itu juga aku tersadar bahwa Alloh yang
menggenggam kekuasaan dilangit dan dibumi. DIA LEBIH TAHU APA YANG TERBAIK
UNTUK HAMBANYA. Jadi aku bisikan doa kepada Sang Pemilik Hati, “Wahai Robb Yang
Maha Hidup, Wahai Robb Yang berdiri sendiri, dengan rahmat-Mu aku meminta pertolongan,
perbaikan segala urusanku dan jangan diserahkan kepadaku meski sekejap mata
sekalipun (tanpa mendapat pertolongan-Mu”. (HR An Nasa).
Dengan doa ini, hatiku tenang. Aku fokus
memperbaiki diri, fokus berdoa, fokus melakukan hal-hal bermanfaat. Kekecewaan
itu berkurang, aku belajar bersyukur dengan yang DIA berikan. Tak mudah memang,
ketika ambisi masa muda masih tinggi. Aku berdoa lagi, dan meredam lagi keinginan
yang terlalu meggembu. Aku dulu selalu berdoa fokus kesatu itu, tapi nyatanya
itulah sumber ujianku.
Sama halnya ketika aku suka pekerjaan
terakhirku, idaman sekali, menurutku. Memang aku pernah berharap untuk menjalankan
tidak menjadi karyawan kantoran lagi. Tapi sejak pekerjaan itu, aku
bersemangat bekerja. Sebelum memutuskan
berpaling dari yang lama, aku berdoa minta yang terbaik. Tapi ternyata yang
terbaik NYA, itu tidak sama dengan yang terbaik menurutku. Jadi, saat aku harus
melepaskannya, ada kecewa, marah, sedih. Aku bahkan kesulitan mencari
penggantinya.
"Qadaralloh wama sya’a fa’ala fa inna, ini takdir Alloh, dan apa yang DIA kehendaki, DIA lakukan”.
Lalu kini aku punya banyak waktu,
muhasabah, memperhatikan diri sendiri, mengenali KebesaranNYA, bercengkrama
dengan keluarga, menggali ilmu dan bersyukur. Nikmat Alloh yang Alloh berikan
kepadaku, MasyaAlloh TabarakAlloh, banyak sekali. Jika dihitung satu persatu
mungkin tidak akan pernah cukup, Alhamdulillah. Aku sadar bahwa kesulitan ini
hanya sebagian kecill tak perlu dibesar-besarkan. Alloh sudah atur sedemikian
indahnya. Semoga kelak, setiap saat aku tetap merasa bersyukur.
Saat ini, Alloh mengaturku untuk
menimba ilmu lagi. Memberikan kesempatan dengan rezeki yang tak pernah bisa
kuduga, yang MasyaAlloh semoga cukup sampai akhir semester 2 tahun kedepan, insyaAlloh.
Padahal dulu bekerja puluhan tahun, aku membayangkan sulit bisa membiaya
kuliah. Dengan kebesarNYA, aku menata kembali rencana masa depanku. Alloh
memberikan petunjuk dalam mimpi-mimpi, aku selalu berada dalam kelas. Dengan begitu
aku berpikir untuk membagi ilmuku, menjadi dosen. Karena “jika seseorang meninggal
dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu) : sedekah
jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau doa anak yang soleh” (HR Muslim).
Berprofesi menjadi dosen juga menjadi
doaku agar Alloh menolongku, insyaAlloh akan berkurang konflik karena aku
mengenakan jilbab syar’i, dan aku punya pekerjaan meskipun aku bisa lebih
banyak waktu untuk mengurus suami & anak-anakku kelak. Aku tetap
berpenghasilan seperti pesan Mama, tapi aku tetap bisa berbakti dengan suami. Tentu
juga memiliki amalan jariyah yang tetap kubawa sampai keliang lahat. Aamiin ya
Robbal Alaamiin.
Memang tidak mudah ketika dana
terbatas hanya untuk kuliah, keseharian aku ditantang untuk dapat mengelola
sedemikian rupa. Ada juga rasa sedih, dulu pernah ini itu, sekarang semua itu
harus ditahan. Tapi setelah mood-nya balik, malah jadi bersyukur. Paling tidak,
dulu pernah. Nikmat Alloh tak terhitung, bahkan sampai yang dirasa sempit,
sebetulnya, nikmat MasyaAlloh TabarakAlloh.
Pernah ada seorang pria dikenalkan,
dia terlalu tinggi, tinggi status sosialnya. Dokter, keluarga terpandang, rekanannya
dengan pejabat, penampilan menarik meskipun tambun, dan lembut hatinya. Tapi
dia tidak sekufu, aku piki begitu. Aku pun minder. Atau mungkin dia yang
minder, karena melihat aku menutup aurat dan tidak mengumbar foto pribadi
seperti layaknya wanita pada umumnya. Sedikit merasa sensitive or baper, mengira
itu karena status sosial yang berbeda.
Saat ini ketika hujan sore ini,
Kamis 21 November 2019 pukul 16:08, aku sedang menikmati radio Kiss Fm sambal menulis
apa yang terpikir saat ini. Sambil mendengan obrolan Mama, teman Mama (Eyang)
dan ponakan (Ara). Tulisan ini bukan untuk kamu, bukan untuk mengadu. Aku adalah
orang yang bisa terbuka dengan menulis daripada berbicara. Jadi ini adalah
tulisanku.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar