
Untuk sebagian orang aku kuno dan mereka bilang "welcome in the real world', padahal bagiku ini sangat membingungkan. Ketika aku dihadapi dengan kompleksitas dari sebuah hubungan yang abnormalitas yang dinamakan "perselingkuhan".
Aku tidak pernah terbayang adanya sebuah perselingkuhan diantara duniaku.
Tapi kali ini aku dipaksa mengetahui tentang hubungan ini yang ternyata memang sekarang ada diduniaku, dunia kerja.
Entah dengan maksud apa, atau alasan apa, aku memilih diam dan penyimpan rahasia mereka (semoga orang kantorku ga ada yang tahu blog pribadiku,hehehe,,).
Kita mulai cerita tentang seorang pria A,pria beristri yang cukup taat beribadah dan memliki keluarga kecil yang harmonis (aku rasa). Tapi mereka terpisah jarak karena pilihan mereka. Membangun kemapanan hidup demi masa depan.
Ternyata itu menjadi awal mulanya pria ini ingin meraih 'cemilan' yang berada terdekatnya. Beruntunglah si 'cemilan' ini menolak. Meski si pria A tetap mencoba merayu dan mengeluarkan sedikit 'kekuasaannya', tapi wanita itu tetap menolak dengan dalih agama.
Beda hal dengan pria B, dia baru mengenal dunia maya. Tapi dunia maya itu malah dibuat sebagai ajang untuk merayu seorang janda cantik dari kota sebelah kampungnya.
Dengan dalih menikah mengikuti Sunnah Rosul, dia menikahi janda itu tanpa sepengetahuan keluarga sebelumnya. Rasanya mau nampar ni "aki-aki" pas cerita ke aku, tapi buat apa. Dia hanya memintaku mendengar dan menjaga rahasianya bukan menanya pendapatku.
Atau ada pria C, seorang pria muda kira-kira belum 30 tahun. Dia menghamili karyawan disebuah perusahan kolega perusahan kami. Sekarang dia punya 2 istri dan direkrut lagi sama kantorku padahal dulu dikeluarkan. Aneh!
Atau seorang pemuda belum beristri ini, sebut saja pria D. Dia mendekati seorang wanita rekan kantornya, saat hubungan sudah hampir melangkah pada sebuah komitmen tak lama kmudian si wanita ini tau kalau pria ini sudah punya pacar. Dan lebih menyakitakan lagi si pria sudah mau menikah. Kebohongan yang mengatasnamakan cinta. Pria ini tidak mau kehilangan calon istrinya tapi juga tidak ingin kehilangan "wanita idaman lain (wil)" nya.
Dan yang terakhir, Pria E dan teman baikku dikantor. Mereka sama-sama sudah menikah, memiliki keluarga yang harmonis bahkan terlihat mambuat iri semua orang yang melihat. Tapi apa yang terjadi, mereka selingkuh. Berawal dari si pria E yang mengaku mulai CLBK sama si wanita. Dahulu, mereka memang saling mencintai tapi berbeda keyakinan. Kondisi rutinitas kantor dan rumah mereka yang berdekatan membuat mereka intens berangkat dan balik bareng (dan aku menjadi tameng diantara mereka awalanya, skrg setelah tau, aku menghindari diantara mereka). Intensitas itu mebuat rasa diantara mereka tumbuh, berkemabang lagi dan semakin menggelora. Dulu mereka cerita tentang hubungan mereka ke aku, semakin mereka sangat dekat dan aku menjauh, mereka semakin pintar bersandiwara. Bahkan mereka meng-create suasana bahwa keluarga mereka sangat akur. Berkunjung kerumah masing-masing beserta keluarga dan terkesan nothing happen between them. Ahh,, aku menangis mengingat ini juga anak-anak mereka, pasangan mereka yang dikhianati. Kalau saja mereka bukan teman baikku, aku takkan main perasaan.
Semua ini aku mengetahui langsung dari sumbernya, dan sang pria yang bercerita kepadakku. Fenomena ini kadang membuatku berharap aku bisa menjadi anak autis dikantor, nutup mata, telinga dan hanya memperdulikan pekerjaan. Tapi aku terlanjur berada atau menjadi pendengar mereka. Apa yang salah sama aku? Mengapa mereka mudah begitu saja percaya padaku?
Atau memang Allah sedang memberiku petunjuk tentang makna dari berumah tangga.
Kadang ini mebuatku takut memilih pria, takut dan takut lainnya...
Tapi seorang sahabatku bilang, aku hanya diminta BERDOA dan BERUSAHA. Usahanya mungkin dengan membuatku lebih aware sama kaluargaku kelak, kepercayaan saja tidak cukup tapi ada hal yang haru tetap dijaga. Dan jika suatu saat nanti memang ada hal yang aku takutkan terjadi, itu adalah kuasa NYA. Bagaimana kita harus mencemaskan perselingkuhan, jika kita sendiri tidak tahu apakah esok nafas kita masih berfungsi.
Bagaimana menurut anda?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar